Ketika Channa Jadi Malapetaka di Amerika
Nakama Aquatics – Jika kamu rajin mengikuti konten Nakama Aquatics, pasti kamu sudah tidak asing mendengar kabar orang-orang yang melepaskan ikan non-lokal seperti nila, lele dumbo, mujair ke sungai-sungai lokal dengan tujuan untuk memulihkan ekosistem. Nyatanya, ikan-ikan tersebut lebih unggul dalam mencari makan, berkembang biak dan bertahan hidup jika dibandingkan dengan ikan lokal seperti ikan tawes, nilem, baung, channa dan sebagainya.
Yuk kenalan sama Channa
Tak kenal maka tak sayang. Yuk kenalan dulu sama ikan predator terkece ini. Channa adalah genus ikan predator dari keluarga Channidae, atau nama umumnya adalah snakehead. Setidaknya, sudah teridentifikasi kurang lebih 50 jenis Channa dan nampaknya masih akan terus bertambah.
Mereka berasal dari Dunia Lama, mencakupi benua Afrika, Asia dan Eropa dan telah beradaptasi serta hidup dengan iklim yang beragam, mulai dari Irak yang panas dan kering, iklim tropis Indonesia yang lembap, sub-tropis Cina, bahkan sampai ke Russia dengan suhu yang membeku.
Apa sih kunci kesuksesan Channa sehingga mereka bisa hidup di berbagai iklim serta kondisi air yang beragam tersebut? Channa dikenal sebagai ikan pejuang yang tangguh. Dalam keadaan dimana makanan di perairan mereka sudah habis, mereka akan mengikuti instingnya untuk pindah dan mencari rumah baru dengan cara berjalan. Iya kamu gak sala dengar, Channa bisa merayap seperti ular di daratan. “Loh, mereka nggak kehabisan nafas karena nggak ada air?” Keunggulan channa dibanding ikan lain yang butuh air untuk bernafas adalah channa memiliki labirin udara yang digunakan sebagai sistem pernapasan. Dengan perbekalan tersebut, mereka mampu bertahan di darat dan hidup tanpa air selama 4 hari serta menempuh jarak 400 m! Tangguh banget gak sih?
“Lalu dari 50 spesies channa yang ada, apakah mereka semua sama?” Yup, mereka semua memiliki bentuk badan yang sama. Berupa badan panjang, sirip depan yang gepeng untuk membantu mereka berjalan, dan ciri khas berupa kepala segitiga yang dihiasi oleh gigi-gigi yang tajam dan kuat.
Tentu saja setiap spesies memiliki ukuran yang berbeda juga, ada dwarf snakehead, si imut-imut asal Asia Tenggara dengan ukuran 25 cm hingga giant snakehead, Channa terbesar yang bisa tumbuh hingga panjang 1.5 meter! Nggak hanya ganas dan tangguh, Channa juga memiliki motif dan warna yang indah sehingga sekarang ini sedang dicari oleh penghobi ikan predator untuk dipelihara.
Ada auranti yang memiliki titik-titik oren di tubuhnyanya, barca dengan warna biru muda yang menawan dan masih banyak lagi. Namun dengan ukuran dan warna yang beragam, setiap channa memiliki satu kesamaan.
Sebagai predator penyergap. Coba deh kamu perhatiin kalau melihat channa, bentuk tubuhnya yang panjang sangat sesuai untuk berenang cepat dalam jarak yang pendek untuk menyergap. Taktik yang mereka gunakan ketika berburu adalah menunggu mangsanya dengan bersembunyi di bebatuan, akar-akaran dan tumbuhan dan menanti mangsa yang lewat, ketika ada hewan seperti ikan, serangga, udang, katak bahkan mamalia air kecil langsung disergap!
Setelah mangsa tercengkram, mangsa tersebut akan kesulitan kabur karena sudah dikunci oleh gigi-gigi mereka yang tajam dan kuat. Jika mangsanya berukuran kecil, channa akan langsung menelannya. Namun apa bila mangsanya tersebut memiliki ukuran besar, channa akan memotongnya dengan cara membanting secara keras sehingga bagian tubuh mangsa akan terpotong. Hiii serem banget ya.
Namun jangan khawatir, channa yang ada di Indonesia memiliki banyak predator yang siap memangsa mereka. Mulai dari ikan predator lain, burung-burung seperti bangau dan elang, buaya dan manusia. Bukan tanpa alasan, rakyat di Indonesia gemar mengonsumsi channa karena memiliki rasa daging yang gurih dan memiliki kandungan albumin yang tinggi.
Apa sih albumin itu? Albumin adalah protein di plasma darah yang fungsinya menjaga cairan dalam darah tidak bocor ke jaringan lain. Protein ini juga membantu membawa berbagai zat ke seluruh tubuh, seperti hormon, vitamin, dan enzim. Khasiatnya adalah bisa membantu pertumbuhan dan pembentukan otot, mempercepat penyembuhan luka pasca-operasi. Banyak manfaatnya ya.
Dari informasi tersebut, sekarang terbayang kan apa yang terjadi jika channa tersebut hidup di lingkungan yang nyaman dan tanpa pesaing. Hal ini yang terjadi di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat.
Awal Mula Channa di Amerika Serikat
Karena kepopulerannya sebagai bahan makanan, channa-channa tersebut dibawa keluar dari wilayah asalnya di Asia ke Amerika. Catatan sejarah pertama menunjukan bahwa ada penampakan Asian Snakehead di Oahu, Hawaii pada tahun, coba tebak.
Apakah ada yang menebak sebelum tahun 1900, selamat kalau ada yang berhasil. Lalu berikutnya muncul penampakan Channa di Florida pada tahun 2000 dan penampakanketiga berupa spesies Northern Snakehead di sebuah kolam yang ada di Maryland. Di tahun 2004, telah ditemukan populasi yang sudah stabil di Sungai Potomac. Dalam luas 190 km, diperkirakan ada 21.000 ekor channa, hmmm nggak ada yang mancingin ya?
Diperkirakan, channa-channa tersebut dilepas dengan tujuan untuk berkembang biak di alam agar bisa dipancing, dilepas liarkan karena tadinya dipelihara dan si pemilik sudah tidak mampu merawatnya. Nah loh, kok kayak familiar ya?
Puncak kesadaran publik Amerika Serikat terhadap Channa dimulai pada tahun 2007 di negara bagian Georgia, Jonathan Major, seorang pemancing yang ingin relaks berhasil menarik satu ikan asing yang belum ia pernah lihat sebelumnya. Karena penasaran, ia mengirimkan foto ikan tersebut ke Dinas Perikanan dan mendapatkan jawabannya. Ikan yang Jonathan pancing adalah Northern Snakehead, alias Channa argus. Setelah laporan tersebut, pemerintah setempat mengeluarkan peraturan untuk memusnahkan channa yang ada.
Setelah berita sensasional tersebut, channa masuk dalam budaya pop Amerika Serikat, sampai-sampai ada tiga film horror tentang snakehead, Snakehead Terror, Frankenfish, dan Swarm of the Snakehead. Kamu udah pernah nonton belom?
Tapi apa sih yang menyebabkan pamor Channa sebagai ikan invasif di Amerika Serikat menakutkan? Itu karena di Amerika Serikat, mereka tidak memiliki predator alami yang bisa memangsa mereka. “Kok nggak dijadiin makanan aja kayak di Idonesia?”
Ini karena kesenangan warga Amerika Serikat untuk memakan ikan yang tidak atau sedikit memiliki duri. Oleh karena itu, ikan dengan duri yang sedikit seperti salmon dan lele lebih digemari ketimbang Channa.
Sifat channa yang agresif dan teritorial juga menyebabkan channa berkompetisi untuk merebut makanan dan habitat langsung dengan ikan predator lokal di sana seperti Pike, Bass, dan Catfish. Sifat teritorial channa juga membantu ketika ikan berkepala ular ini sedang berkembang biak.
Beberapa jenis channa dikenal sebagai orang tua yang protektif terhadap anak-anaknya. Jumlah anakannya juga tidak main-main, seekor channa betina bisa menghasilkan hingga 15.000 telur dalam sekali pemijahan. Dalam setahun, channa bisa kawin hingga 5 kali, nah sekarang bayangkan saja, dalam 2 tahun 1 betina tersebut akan menghasilkan 150.000 baby channa!
Sekarang, channa termasuk daftar hitam hewan-hewan yang tidak boleh masuk di Amerika Serikat dalam keadaan hidup. Nah, jika suatu hari kamu tinggal di Amerika dan pengen makan ikan gabus, kamu bisa membelinya dalam keadaan beku dan insangnya sudah dibersihkan dari peternakan Channa di Honolulu, Hawaii.
Kesimpulan
Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. Di Sini Channa dipuja sementara di Amerika Channa dihina. Siapa yang menyangka, bahwa negara semaju Amerika saja masih kelabakan melawan ikan invasif seperti Channa. Kalau menurut kamu, ikan asal Indonesia apa ya yang bisa jadi invasif di luar negeri?
