Jangan Ngaco!! Ternyata Ikan Nila Itu Bukan dari Indonesia Lho

Nakama Aquatics – Ikan Nila, atau ikan yang dikenal punya nama latin Oreochromis niloticus, adalah salah satu komoditas unggulan perikanan air tawar di Indonesia, bahkan Indonesia menempati terbesar setelah Cina dan India. Ikan ini memiliki pertumbuhan cepat, tahan penyakit, mudah berkembangbiak, toleran terhadap suhu, dan kadar garam menjadikannya primadona para petani ikan.

Saking populernya ikan ini, banyak yang menganggap bahwa ikan Nila adalah ikan endemik asli Indonesia. Padahal, pernyataan tersebut jelas salah besar, bila kita melirik asal-muasal ikan ini dengan lebih seksama.

Lalu seperti apa sih pembahasan mengenai ikan Nila yang sebenarnya bukan dari Indonesia? Kamu penasaran? Yuk simak berikut!!

Peliharaan di kolam biasanya Nila

Kalau kita sering mengecek berbagai grup di Facebook atau mungkin di sosial media lainnya, rata-rata orang ketika mempunya kolam terutama outdoor, biasanya akan cenderung merawat ikan Nila. Mungkin tidak perlu jauh-jauh, kamu bisa mengecek tetangga-tetangga di sekitar kamu yang mempunyai kolam ikan. Biasanya rata-rata bakal merawat ikan Nila, meski bisa jadi tidak hanya ikan Nila saja yang berada di kolam tersebut.

Ikan Nila sejatinya memang cukup populer juga sebagai ikan hias khususnya di kolam. Selain daya tahannya yang kuat di tempat luar alias outdoor, ikan Nila sangat mudah dalam hal perawatannya. Ikan ini cukup diberi makan pelet, bahkan bisa juga diberi makanan alami seperti alga. Dengan begitu biaya perawatannya pun bisa semakin sedikit bahkan nyaris 0 rupiah.

Sebenarnya dari mana ikan Nila itu?

Kalau kita bertanya-tanya, sebenarnya dari manakah ikan Nila berasal? Ternyata secara alami, ikan Nila ditemukan mulai dari Syria di utara hingga Afrika timur sampai ke Kongo dan Liberia yaitu di Sungai Nil di Mesir, Danau Tanganyika, Chad, Nigeria, dan Kenya. Diyakini pula bahwa pemeliharaan ikan ini telah berlangsung semenjak peradaban Mesir purba.

Awal mula ikan Nila di Indonesia

Awalnya, ikan Nila di Indonesia adalah jenis ‘Mosambica’ yang sudah berkembang dengan pesat. Sebagai informasi, Mosambica adalah jenis ikan Nila pertama di Indonesia pertama yang banyak dikenal orang dengan nama Mujair. Namun, karena ukurannya yang relatif kecil, lambat laun ikan ini tergantikan dengan jenis ‘Nila Tilapia’, baik yang berwarna hitam maupun merah. Bahkan, beberapa perusahaan juga sudah mencoba untuk memelihara ikan Nila Biru sebagai bahan untuk menghasilkan ikan nila jantan tanpa hormon.

Khusus untuk ikan ‘Nila Hitam’ mulai didatangkan pada tahun 1969 dan tersebar di Danau Tempe, Sulawesi Selatan. Kemudian, beberapa lembaga riset mendatangkan ikan Tilapia hasil pemuliaan, seperti GIFT3 (tahun 1993) dan GIFT6, Chitralada (tahun 1996), serta GET (tahun 2003). Namun, sayangnya hanya sedikit pihak yang mengetahui bahwa yang didatangkan ke Indonesia umumnya adalah hasil hibridisasi sehingga tidak memenuhi syarat untuk dijadikan induk.

Sementara itu, ikan ‘Nila Merah’ didatangkan melalui jalur Taiwan dan Singapura sekitar tahun 1990-an. Salah satu sumbernya adalah Stirling University di Inggris yang menjadi induk di Aquafarm. Melalui uji secara genetika, akhirnya ikan ‘Nila Merah’ berhasil dibuat yang merupakan hasil hibrid antara ikan Nila Putih jantan dan ikan Nila Hitam betina.

Dampak bagi ekosistem Indonesia

Di daratan utama seperti Sumatera, Kalimatan, Jawa, Sulawesi hingga Papua, penyebab utama dari tersebarnya ikan Nila ke perairan umum adalah cara budidaya ikan yang kurang baik.

Ikan Nila sengaja dibuang ke sungai atau danau karena dinilai tidak produktif lagi, padahal tindakan tersebut membuat ikan Nila berkembangbiak di luar kontral kolam budidaya.

Hal ini juga diperparah oleh ketidak tahuan dinas terkait dalam melakukan restocking ikan di alam. Banyak diantara mereka justru melepas ikan Nila ke perairan umum dengan harapan ikan ini bisa menjadi mata pencaharian penduduk, padahal tindakan ini sangat fatal.

Terjadi perbedaan tujuan dan kepentingan antara sektor pangan dan konservasi. Sektor pangan jelas menganggap ikan Nila sanggup menyediakan protein hewani berbasis ikan yang murah, akan tetapi ditinjau dari sudut pandang konservasi ikan lokal dan endemik, ini jelas merugikan.

Selain bisa menyingkirkan ikan lokal, ikan Nila juga bisa menjadi vektor penyakit bagi organimse akuatik lainnya. Kalau ikan lokal dan endemik Indonesia sudah punah, tentu kita tidak akan bisa melihat lagi ikan-ikan kesayangan kita, dan itu bukan hal yang diinginkan semua orang.

Bagaimana hukum dari pemerintah?

Dilansir dari Solo Pos, pada tanggal 22 Maret 2019, pemerintah Kota Solo mendapat bantuan 810.000 benih ikan nila merah dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Benih ikan langsung disebar di perairan-perairan umum Kota Bengawan. Penyebaran benih ikan itu untuk mendukung program Wong Solo Sueneng Banget Lawuh Iwak. Ini menandakan pemerintah sangat mendukung program penebaran benih ikan Nila di perairan lokal Indonesia.

Tapi perlu diingat juga ikan Nila masuk dalam daftar 10 hewan invasif di dunia yang penyebarannya merata ke seluruh benua kecuali Antartika. Di Banyak Negara seperti Brazil, Australia dan Amerika Serikat, ikan nila menjadi wabah karena populasinya yang tidak terkendali.

Bahkan di Afrika sendiri banyak negara mengeluhkan keberadaan ikan nila yang jauh meninggalkan habitat asalnya dan menjadi inavsif diwilayah baru. Di Indonesia ikan Nila didatangkan dari Taiwan pada tahun 1960-an dengan harapan mampu menjadi komoditas baru perikanan air tawar. Tetapi dalam perjalanannya ikan Nila menyebar ke berbagai wilayah Indonesia secara tidak terkontrol dan berubah menjadi spesies invasif.

Meski sebenarnya hal ini bisa dikaitkan dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41/PERMEN-KP/2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.

Tapi di sisi lain, mungkin bisa jadi pemerintah menyediakan tempat khusus supaya ikan Nila ini menjadi bermanfaat dari sisi ekonomi dan sosial. Mengingat ikan Nila yang bisa dijadikan konsumsi masyarakat sehingga memiliki nilai tambah tersendiri.

Tindakan yang bisa dilakukan sebagai penghobi

Sebagai penghobi tentu kita harus menjaga dan merawat sebaik-baiknya ikan Nila. Kita tentu tidak boleh sembarangan melepas ikan Nila ini ke perairan lokal Indonesia. karena berbeda dengan pemerintah, dimana mereka ada maksud tertentu ketika melepas benih-benih ikan Nila seperti contohnya untuk restocking dan lain sebagainya.

Nah itulah pembahasan mendalam bahwa sebenarnya ikan Nila itu bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Afrika. Bagaimana? Apakah kamu sudah mulai tercerahkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *